RoniYuzirman.com: Hati-Hati dengan Jebakan Biaya Tetap

Posted: June 11, 2009 in Uncategorized

Ada posting yang menarik hari ini saya lihat di milis TDA, saya teringat bagaimana kami punya pikiran untuk punya beberapa konter di mall-mall di batam. Ternyata klop banget dengan tulisan pak Roni tahun 2005 lalu.

Oia, di akhir postingan beliau rekomen 2 buah buku. Nah bagi rekan-rekan yang mau membaca buku ke 1 yg direkomendasikan beliau boleh mendownload….GRATISSSSS…klik di sini

Berikut postingannya :

——————————–
Tulisan ini diambil dari www.RoniYuzirman.com yang diposting pada tanggal 5
Desember 2005

http://roniyuzirman.blogspot.com/2005/12/hati-hati-dengan-jebakan-biaya-tetap.html


Semoga bermanfaat, terutama bagi member baru.

——————————

Salah satu penyebab kebangkrutan bisnis saya di Tanah Abang adalah karena
jebakan biaya tetap ini. Dua toko yang saya sewa memakan sebagian besar
modal yang ada. Toko pertama waktu itu sewanya Rp. 50.000.000, toko kedua
Rp. 50.000.000 toko ketiga Rp. 87.500.000 per tahun. Pembayarannya, toko
pertama dibayar 3 tahun di depan, toko kedua dibayar per tahun setelah pakai
(alhamdulillah, karena milik keluarga), toko ketiga dibayar dua tahun di
depan. Alhasil, untuk dua toko pertama dan ketiga modal/investasi yang harus
dikeluarkan di depan adalah Rp. 325.000.000,-, belum termasuk modal kerja
untuk inventory yang rata-rata Rp. 100.000.000 per toko yang tidak saya
masukkan dalam hitungan ini. Kalau dibagi per bulan, angka ini tidak
masalah, karena hanya Rp. 11.458.000 per bulan. Untuk skala Tanah Abang ini
termasuk ringan. Masalahnya adalah uang Rp. 325.000.000 itu harus
dikeluarkan untuk sewa 3 tahun di muka. Jadi uang yang mati tertanam adalah
Rp. 325.000.000, sedangkan hasilnya atau untung ruginya baru ketahuan 3
tahun lagi. Mungkin anda bertanya, kenapa saya mau melakukannya. Pertama
karena aturan main di Tanah Abang memang demikian, kedua karena faktor
kurangnya ilmu saya sendiri.

Dengan bertambahnya jumlah toko berarti bertambah pula jumlah karyawan,
biaya listrik, telepon dan service charge. Konsekuensinya, setiap hari itu
harus ada target penjualan yang harus dikejar. Dan sialnya lagi, dalam 3
tahun ke depan saya tidak bila melakukan apa-apa terhadap uang saya, karena
sudah terlanjur tersedot oleh biaya tetap untuk sewa itu. Uang saya sudah
“mati” untuk 3 tahun ke depan. Tidak ada anggaran untuk Marketing dan
pelayanan pelanggan. Saya harus kejar target itu supaya bisa untung. Saya
menjadi seperti karyawan. Masuk dalam jebakan rat race menurut istilahnya
Robert Kiyosaki. Apesnya lagi, bisnis saya kena imbas dari kebakaran dan isu
pembongkaran gedung yang mengakibatkan penjualan menurun drastis. Hal ini
membuat hitung-hitungan bisnis saya menjadi berantakan.

Dalam keadaan galau dan tertekan itu saya mencari-cari jawaban untuk
solusinya. Saya ikut berbagai seminar, baca buku dan tanya sana sini.
Akhirnya saya ketemu jawabannya. Tidak dari buku, tidak dari seminar,
melainkan dari seorang teman yang hanya lulusan SMP. Dia punya bisnis ritel
dengan membuka beberapa puluh konter di berbagai mal di Jakarta. Biaya
sewanya murah, mulai dari Rp. 1.000.000 sampai Rp. 5.000.000 per konter dan
dibayar per bulan. Dalam satu mal, dia bisa buka beberapa konter, bahkan
untuk satu mal dia bisa keluarkan biaya sewa total sampai Rp. 60.000.000 per
bulan. Waktu ditanya, kenapa dia lebih suka membuka konter-konter kecil itu
dibandingkan buka toko. Dia menjawab karena bayar sewa konter per bulan,
sedangkan toko harus dibayar mininal 1 tahun di depan. Dia tidak suka
uangnya “mati” dalam waktu setahun. Dia lebih suka bayar per bulan, meskipun
lebih mahal. Logikanya, kalau sewa konter misalnya Rp. 3.000.000 per bulan,
kalau rugi langsung bisa tutup dibulan berikutnya dengan kerugian yang
minimal. Kalau untung, uangnya bisa dia gunakan untuk memperpanjang sewa di
bulan depan. Aha! Ini dia solusi buat bisnis saya. *Jadi, selama ini saya
terjebak oleh besarnya biaya tetap. Seharusnya saya menggunakan biaya
variabel yang jumlahnya bisa disesuaikan dengan keuntungan bisnis per bulan.
Bila bisnis sedang sepi, biaya variabel juga turun, bila bisnis sedang ramai
biaya variabel juga naik sesuai dengan kenaikan penjualan. *

Akhirnya, setelah mendapat pencerahan ini saya tutup ketiga toko di Tanah
Abang. Saya mulai lagi bisnis via internet dengan menggunakan garasi di
rumah sebagai gudang. Biayanya? Almost nothing, dibandingkan di Tanah Abang
dulu. Hasilnya? Kalau dulu rata-rata setiap bulan keuntungan itu baru
didapat setelah tanggal 20-an. Sekarang, dari hari ke tiga pun sudah untung
sampai akhir bulan. Dalam setahun berbisnis di rumah, saya bahkan telah
diwawancarai oleh 2 majalah, dan terakhir ditawari oleh Pak Tung untuk
ditampilkan profilnya di koran Media Indonesia dengan judul “From Zero to
Hero”, tapi saya belum meng-iyakan karena merasa tidak cocok dengan istilah
itu.

Saya temukan jawabannya bukan dari buku. Tapi dari seorang street smart
berusia di bawah 30 tahun yang hanya lulusan SMP. Meskipun begitu, saya
merekomendasikan buku yang juga menawarkan solusi *street smart* untuk
masalah ini:
1. *Starting on a Shoestring* – Building a Business Without a Bankroll,
third edition, oleh Arnold S. Goldstein, PhD, penerbit John Wiley & Sons,
dan
2. *100 Cara Meningkatkan Keuntungan Perusahaan Anda*, oleh Herman Holtz,
penerbit Abdi Tandur.

Semoga Bermanfaat.


Wassalam,

Badroni Yuzirman,
TDA JKT 0000001-0106
www.manetvision.com I www.roniyuzirman.com I Y!M: roniyuzirman I HP 0812 1008164
——————-

Advertisement
Comments
  1. anton says:

    Memang betul mas, kita jangan terpancing dengan yang namanya “Biaya Tetap”. Kita tetap harus mengkalkulasi ulang, karena kata-kata “Biaya Tetap” digunakan sebagai senjata ampuh bagi pengembang untuk memasarkan produk properti mereka.Setelah dihitung ulang ternyata tetap tergantung dengan fluktuasi suku bunga perbankan.Yang tetap adalah nilai angsurannya sedangkan nilai pokok dan bunganya berubah.

  2. yust tamaro says:

    Walaupun artikel ini sudah lama, namun ilmunya selalu baru. thanks mas, sudah menyosialisaikan ilmu pak Roni.

    http://rodadua.net – Toko online Sarung tangan motor keren

    Iya mas, saya jadi ingat kembali obrolan ringan sama istri kalo mo bikin konter2 saja di mall-mall. soale pernah sewa ruko juga, berat dgn biaya diawalnya itu.

  3. ardian says:

    Wah artikel yang menarik mas..terimakasih..

    Iya menarik sekali, karna itu saya copy paste.

  4. admin says:

    mantep gan..
    kayanya saya tahu nih orang, dia byk di omongin di bukunya Tung Desem hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s